ISTN Selenggarakan Seminar Migas: “PM Series dan Offshore Series”

IMG-20130616-WA018

Berangkat dari kepedulian para praktisi di bidang migas untuk berbagi ilmunya kepada mahasiswa dan masyarakat umum dengan cara memberikan Kuliah Umum atau Seminar yang di adakan di kampus-kampus, maka terciptalah kerjasama antara Alumni, Mahasiswa, Dosen dan para Praktisi-praktisi migas untuk menyelenggarakan Seminar Migas bertemakan “Project Management Series dan Offshore Series” di Auditorium Prof. DR. Ir. Roosseno – Kampus Institut Sains Dan Teknologi Nasional (ISTN), Jakarta pada tanggal 15 dan 22 Juni 2013.

Tujuan dari terselenggaranya seminar ini adalah untuk memberikan pengetahuan kepada mahasiswa/i tentang dunia migas, mengaplikasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi, memvisualisasikan hasil analisa dan pemikiran terhadap pengendalian dan pengolahan sumber daya bumi dan juga sekaligus bersilaturahmi antar alumni.

Adapun tema yang diangkat untuk seminar pada tanggal 15 Juni 2013 adalah “Project Management dan Offshore Series” yang terdiri dari 4 sesi. Seminar dibuka dengan sambutan oleh Wakil Rektor ISTN Ir. Arfian Ahmad, M.Eng.Sc dilanjutkan oleh Dekan Fakultas Teknologi Industri ISTN DR. Ir. Agus Sofwan, M.Eng serta Direktur Pasca Sarjana ISTN Prof. DR. Ir. Dahmir Dahlan, MM.

Memasuki sesi pertama, Antonius Yunianto, ST didaulat menjadi pembicara pertama dengan bahasan Professional in Offshore Engineering & Management. Bahasan ini mencakup materi yang berbicara tentang: Introduction to Project Management in Oil and Gas Industry, Introduction to Project Interface Management in Oil and Gas Industry, Case Study : Concept Selection Phase in Field Offshore Deepwater Development dan Project Management Certification.

Lebih spesifik mengenai materi yang dibahas pada sesi pertama ini meliputi: Definisi Project, Atribut Project, Perbandingan antara project dan operasional, Project Management, Program Management & Portfolio Management, Apa yang dimaksud dengan Project Management?, Project Constraint, Managing the Project, Project Life Cycle, dll.

Sesi kedua dari seminar migas ini menghadirkan Muvita Aryani, ST sebagai pembicara dengan bahasan yang melingkupi materi tentang: Skill Related Planning and Scheduling, Performance, Progress Measurement and Cost Controlling, Contract Management and Administration serta Communication yang membahas mengenai “Basic Project Planning Management”.

Lebih spesifik mengenai materi yang dibahas pada sesi kedua ini meliputi: Planning & Scheduling Project, Project Planning Mode & Scope, Developing the Schedule Key Elements, Developing the Schedule Activity Identification, Level of Schedule, Key Elements Work Breakdown Structure (WBS), Key Elements Sequence, Key Elements Dates & Duration, Key Elements Dates & Duration, Key Elements Man-hour Estimate, Resource & Yard Capacity, dll.

IMG-20130616-WA007

Disesi ketiga menghadirkan Ibnu H Nawadir, ST sebagai pembicara dengan bahasan “Introduction to Oil and Gas Cost Management”. Pada sesi ini meliputi bahasan, antara lain: Project Control Pyramid, Inroduction, Phasing, Inroduction to Cost, Cost in Project Management (PMI), Tools & Technique, Output – input Cost Estimate & Support Detail, Work Breakdown Structure, dll.

Disesi keempat atau sesi terakhir ditutup dengan bahasan mengenai  “Introduction to Marine Drilling” yang dibawakan oleh Djoko Ary Wibowo, ST selaku Konsultan migas pada Petronas Carigali – Malaysia. Pada sesi ini meliputi bahasan, antara lain: Bagaimana pengeboran awal itu dilakukan dan mengetahui kondisi bawah laut, Sejarah dari pengeboran lepas pantai, Metode dari pengeboran lepas pantai, Production or Exploration Well?, Berbagai Type Rig (anjungan pengeboran), Fungsi dari Basic Pengeboran, dll.

Dalam sesi terakhir ini terlihat jelas antusias para peserta untuk mengetahui bagaimana cara pengeboran yang begitu rumit dilakukan, bagaimana prosedur dari pengeboran lepas pantai itu sendiri sampai kepada alat yang digunakan pada pengeboran lepas pantai hingga bahan yang digunakan melalui pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan.

Acara ini sendiri dapat terselenggara berkat kerjasama antara Alumni, Mahasiswa dan Dosen ISTN serta mendapat dukungan penuh dari Rektor ISTN Prof. DR. Ir. Agus Priono, Ph.D.

Penulis: Daniel Hamdani (Wakil Ketua Pelaksana Seminar Migas & Alumni ISTN Angkatan 1995)

Posted in News | Leave a comment

Memahami Industri Migas Indonesia

Industri migas merupakan industri yang luas keterkaitannya dengan industri lainnya, untuk mempermudah memetakan end to end bisnis mulai dari pencarian minyak hingga penjualan migas, berikut ini paparannya:

Klasifikasi Aktivitas Industri Migas
Terdapat 2 jenis kegiatan usaha di industri migas yakni usaha inti (core business) dan usaha penunjang (non core business). Usaha inti terdiri dari kegiatan hulu dan hilir, sementara usaha penunjang terdiri dari jasa penunjang/services dan industri penunjang.

Gbr 1

Kegiatan Hulu
Kegiatan eksplorasi adalah kegiatan yang bertujuan memperoleh informasi mengenai kondisi geologi untuk menemukan dan memperoleh perkiraan cadangan migas di Wilayah Kerja yang ditentukan, sedangkan kegiatan eksploitasi merupakan rangkaian kegiatan yang bertujuan untuk memproduksi migas yang terdiri atas pengeboran dan penyelesaian sumur, pembangunan sarana pengangkutan, penyimpanan, dan pengolahan untuk pemisahan dan pemurnian Minyak dan Gas Bumi di lapangan serta kegiatan lain yang mendukungnya.

Gbr 2

Kegiatan Hilir

Gbr 3

Skema Kegiatan Hilir

Kegiatan usaha hilir terdiri atas kegiatan usaha Pengolahan (Refinery), Pengangkutan, Penyimpanan dan/atau Niaga.

Pengolahan/Pengilangan (Refinery)
Pengolahan/Pengilangan adalah kegiatan memurnikan, memperoleh bagian-bagian, mempertinggi mutu dan mempertinggi nilai tambah minyak bumi dan/atau gas bumi, tapi tidak termasuk pengolahan lapangan. Pengolahan minyak mentah dilakukan pada kilang minyak bumi sebagai sistem peralatan untuk mengolah minyak mentah / crude oil (minyak bumi) menjadi berbagai produk kilang. Produk hasil pengolahan minyak bumi berupa berbagai jenis BBM dan produk-produk non-BBM. Sebagai ilustrasi, berbagai produk yang dihasilkan dari suatu kilang minyak bumi.

Gbr 4

Pengangkutan
Adalah kegiatan pemindahan Minyak Bumi, Gas Bumi, dan/atau hasil olahannya dari Wilayah Kerja atau dari tempat penampungan dan Pengolahan, termasuk pengangkutan Gas Bumi melalui pipa transmisi dan distribusi.

Penyimpanan
Adalah kegiatan penerimaan, pengumpulan, penampungan, dan pengeluaran Minyak Bumi dan/atau Gas Bumi, Bahan Bakar Minyak, Bahan Bakar Gas, dan atau hasil olahan pada lokasi diatas/dibawah tanah untuk tujuan komersial, misalnya depot dan tangki timbun terapung (floating storage).

Niaga
meliputi kegiatan pembelian, penjualan, ekspor, impor Minyak Bumi, Bahan Bakar Minyak, Bahan Bakar Gas dan/atau Hasil Olahan, termasuk gas melalui pipa. Untuk Kegiatan Usaha Niaga dibagi menjadi 2 macam yaitu:

1. Usaha Niaga Umum (Wholesale) yaitu suatu kegiatan usaha pembelian, penjualan, ekspor dan impor Bahan Bakar Minyak (BBM), Bahan Bakar Gas (BBG), Bahan Bakar Lain (BBL) dan Hasil Olahan dalam skala besar yang menguasai atau memiliki fasilitas dan sarana niaga dan berhak menyalurkannya kepada semua pengguna akhir dengan menggunakan merk tertentu.

2. Usaha Niaga Terbatas (Trading) merupakan usaha penjualan (Trading) produk-produk niaga migas dalam hal ini adalah Minyak Bumi, BBM, BBG, BBL, Hasil Olahan, Niaga gas bumi yang tidak memiliki fasilitas dan Niaga terbatas LNG.

Jasa Penunjang (Services)
Adalah kegiatan usaha jasa layanan dalam kegiatan usaha hulu dan kegiatan usaha usaha hilir. Kegiatan Jasa Penunjang meliputi Jasa Konstruksi Migas dan Jasa Non-Konstruksi Migas. Pada Jasa Konstruksi Migas terdiri dari Jasa Perencanaan (design engineering), Pelaksanaan (EPC, Instalasi dan Komisioning) dan Pengawasan Konstruksi. Sedangkan Jasa Non-Konstruksi Migas adalah usaha jasa layanan pekerjaan selain jasa kontruksi dalam menunjang kegiatan migas seperti : survei seismik & non seismik, pemboran, inspeksi dan jasa lainnya.

Industri Penunjang
Adalah kegiatan usaha industri yang menghasilkan barang, material dan/atau peralatan yang digunakan terkait sebagai penunjang langsung dalam kegiatan usaha Migas. Kegiatan Industri Penunjang meliputi Industri Material, Peralatan Migas dan Industri Pemanfaat Migas.

Gbr 5Platform

Gbr 6Wellhead

Gbr 7Casing

Gbr 8Tubing

Sumber: Kementerian ESDM

Dirangkum oleh: Felix Nola (Mantan Pemimpin Umum Black Post 2001 – 2003)
Saat ini bekerja di EM Commercial – Asset Management Solution Dept, PT. Trakindo Utama

Posted in Minyak dan Gas | Leave a comment

Menggagas Format Baru Pers Mahasiswa

Belakangan ini, pers mahasiswa seakan mengalami kegamangan bahkan dalam banyak hal telah mengalami kemunduran. Selain kehilangan daya kritisnya, juga kehilangan eksistensinya sebagai media kampus. Ironisnya, kondisi ini hampir dialami oleh seluruh pers mahasiswa di Indonesia.

Ini terjadi karena pers mahasiswa tidak lagi dijadikan alat perjuangan dalam mengakampanyekan isu-isu kerakyatan seperti masa Orde Baru. Apakah perubahan sistem politik dari otoriter ke demokratis ikut mempengaruhi kemunduran dan kegamangan pers mahasiswa? Masih butuh perdebatan yang sangat panjang.

Memang ada perbedaan cukup mencolok antara pers mahasiswa masa Orde Baru dengan pers mahasiswa masa kini (pasca reformasi). Selama Orde Baru, pers mahasiswa mampu menyajikan liputan-liputan yang kritis, taktis, tajam dan seringkali membuat telinga pemerintah dan penguasa merah.

Beberapa pers mahasiswa bahkan sempat ditakui pemerintah atau menjadi target operasi pemerintah (black list) akibat penyajian berita yang tergolong berani. Sebut saja misalnya, Bulansumur (terbitan mahasiswa UGM), Pijar (terbitan mahasiswa Filsafat), Black Post (terbitan mahasiswa ISTN), Suara Massa (terbitan organisasi mahasiswa SMID).

Pada tahun 1995 pers mahasiswa Pijar pernah mengangkat tentang bisnis militer yang membuat geger di tubuh ABRI (TNI) itu. Begitu juga majalah mahasiswa Black Pos yang mengangkat tema utama “Subuh Berdarah di ISTN” sebagai protes atas kesewenangan tentara. Suara Massa juga lebih kritis karena selalu mengungkap korupsi dan penyimpangan ditubuh birokrasi pemerintah.

Ketajaman dan kekritisan pers mahasiswa saat itu bukan pada pemilihan bahasa dan judul saja, tetapi juga pada penyajiaan data dan kemampuan dalam mengungkap kasus-kasus korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Praktis sejak zaman Orde Baru, pers mahasiswa menjadi acuan dan bacaan alternatif masyarakat.

Pasalnya media-media konvensional (harian dan mingguan) tidak berani mengungkap dan apalagi mempublikasikan kasus-kasus KKN yang terjadi di institusi pemerinta. Sebaliknya, media konvensional hanya menjadi kepanjangan tangan pemerintah. Singkatnya, pers mahasiswa saat itu sebagai pers perjuangan dan perlawanan atau yang sering disebut dengan istilah pers alternatif.

Ketika sebuah kediktatoran Soeharto mampu ditumbangkan lewat gerakan reformasi 1998, terjadi pembalikan secara total dan fundamental terhadap dunia pers di Indonesia. Pers yang sebelumnya sangat jinak tiba-tiba berubah menjadi garang dan galak. Bahasa pers yang dulunya “sopan santun” berubah sangat menyengat. Berita yang dulunya “haram” menjadi “halal” untuk diberitakan.

Tema-tema, penggusuran, penangkapan, KKN dan penderitaan kaum pinggiran tidak lagi menjadi wilyah pers mahasiswa, media-media lain pun juga berani mempublikasikan dengan kemampuan data yang lebih lengkap. Dengan sendirinya, masyarakat kini lebih melirik pers-pers lain dari pada pers mahasiswa.

Perubahan total dan fundamental yang terjadi pada pers-pers kovensional ternyata juga berimplikasi pada pers mahasiswa. Harus diakui pasca reformasi pers mahasiswa mengalami perubahan cukup tajam. Perubahan itu bukan pengarah pada kemajuan dan profesionalitas tetapi mengarah pada kemunduran dan kegamangan di internal aktivisi pers mahasiswa.

Mencari Format Baru
Melihat realitas di atas penting kiranya pers mahasiswa menggagas format baru agar tetap eksis dan mampu berperan dalam menyuarakan kepentingan publik. Ini penting agar pers mahasiswa tidak tercerabut dari akarnya sebagai pilar demokrasi. Sehingga pers mahasiswa tetap kritis dan mampu menjadi alat perjuangan seperti masa lalu.

Beberapa hal yang perlu segera diperhatikan dan dibenahi oleh pers mahasiswa adalah. Pertama, pilihan isu atau tema. Pers mahasiswa sudah seharusnya mencari atau mengangkat isu-isu alternatif atau isu-isu lokal yang tidak pernah diungkap oleh pers-pers konvensional. Misalnya, tentang KKN di kampus, gaya hidup mahasiswa, kapitalisasi pendidikan, penderitaan kaum pinggiran dan isu-isu populis lainnya.

Isu itu, tentunya akan lebih menarik dan bisa diterima oleh pembaca terutama dikalangan mahasiswa sendiri. Jika pers mahasiswa mengangkat isu-isu aktual, tentang sengketa blok Cepu, tanah longsor, polio, flu burung, dan formalin misalnya, berita itu menjadi basi dan tidak menarik lagi. Sebab, semua media konvensional sudah mempublikasikannya dengan data yang lebih lengkap.

Kedua, kedalaman bahasan. Kelemahan dari pers mahasiswa selama ini adalah kemampuan dalam melakukan investigasi secara mendalam dan serius. Isu-isu dan tema-tema yang di angkat oleh pers mahasiswa lebih mencerminkan kebutuhan rubrikasi. Sehingga pembahasan dan ulasannya pun tidak begitu mendalam, bahkan seringkali tidak didasari oleh fakta dan data yang kuat. Tetapi lebih didasari oleh asumsi-asumsi dan analisis penulis.

Kecenderungan mutakhir yang ada pada pers mahasiswa masih sebatas pergeseran kuantitas belum menyentuh ke pergeseran kualitas. Radikalisasi yang ada hanya memiliki artian mengenai cairnya keberanian dalam menggagas tema dan simbol, namun belum diimbangi dengan kedalaman bahasan dan ulasan yang tajam.

Seharusnya antara berita utama dengan kedalaman penggalian sumber berita merupakan dua hal yang paling penting bagi dunia pers. Percuma tema yang di angkat menarik tetapi model penyajiannya tidak didukung oleh data dan fakta yang kuat.

Ketiga, pers tidak pernah bebas nilai dengan kata lain pers selalu membawa, penyambung lidah dari orang-orang yang terlibat di dalamnya. Oleh sebab itu, pers mahasiswa harus memiliki ideologi yang jelas. Ideologi ini tentunya harus memihak kepada kelas bawah (rakyat kecil) yang tertindas bukan memihak pada kelas borjuis (kapitalis). Ideologi ini disamping untuk menyatukan cita-cita, juga sebagai basis analisis bagi tulisan-tulisan yang akan diangkat.

Keempat, memiliki jurnalis yang handal. Dalam hal ini, pers mahasiswa harus memiliki jurnalis yang handal dalam militansi, kemampuan dan kecerdasan menganalisis situasi yang ada dan mampu memberikan solusi yang tepat. Mereka mau terjun langsung ke lapangan, bertemu langsung dengan nara sumber, merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Sehingga mampu menyajikan berita tajam, kritis sesuai dengan fakta yang ada.

Kelima, strategi rekruitmen. Untuk memperoleh kader jurnalis yang handal harus didukung oleh rekruitmen yang teratur, profesional dan sitematis. Langkah selanjutnya, input hasil retruitmen harus mendapatkan pendidikan dan bacaan yang teratur. Ini penting untuk memperkuat basis ideologi.

Salah satu kelemahan terbesar di pers mahasiswa adalah kelemahan dalam melakukan rekruitmen ini sehingga ketika suatu waktu ditinggalkan oleh kader yang lebih mampu (senior), kader lain (junior) tidak mampu meneruskan karena tidak memiliki kader yang handal dari proses rekruitmen tadi.

Dengan cara ini, diharapkan pers mahasiswa tidak lagi mengalami kegamangan di sana-sini, apalagi terkesan kehilangan isu sentral. Sebab, kita—terutama masyarakat—masih mengharapkan pers mahasiswa tetap menjadi penyambung dan pejuang rakyat tertindas dengan kekritisan dan ketajaman dalam menyajikan beritanya.

Sehingga pers mahasiswa yang sifatnya berkala tidak lagi dilecehkan dengn istilah, “kala terbit kala tidak” atau dengan istilah lain yang cukup tragis yaitu, “pers mahasiswa dibuat oleh mahasiswa, diterbitkan oleh mahasiswa dan dibaca sendiri oleh mahasiswa”.

 

Ditulis oleh: Abdul Basyit (Direktur Utama LAPMI HMI Cabang Jogjakarta)
Dipublikasikan pada tanggal 26 Oktober 2011

*Isi tulisan sesuai seperti yg tertera pada halaman aslinya
Dikutip dari: http://lapmihmicabangmalang.wordpress.com/2011/10/26/menggagas-format-baru-pers-mahasiswa/

Posted in News | Leave a comment

Bagaimana Sebuah Kampus Bisa Hidup?

Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN) sebagai sebuah kampus teknik swasta tertua di Indonesia, nasibnya kini tinggal di ujung tanduk. Bagaimana tidak? Satu jurusan didalam sebuah fakultas dalam setiap semesternya hanya dapat menjaring 20-30 orang mahasiswa baru. Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir, sebuah jurusan terpaksa ditutup akibat dari tidak adanya mahasiswa baru yang mendaftar. Miris bukan?

Kenyataan tersebut bukan lantas menjadi hal yang harus diratapi atau malah membuat kita mengelus dada. Dari titik nadir inilah moment yang berharga hadir di tengah-tengah kita semua sebagai upaya merefleksikan dan membangkitkan kembali semangat yang dulu pernah dicetuskan oleh Prof. Dr. Ir. Rooseno dalam mendirikan ISTN.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa persaingan antar perguruan tinggi dalam menjaring calon mahasiswa baru terjadi di Indonesia. Tak heran jika persaingan ini memaksa kampus-kampus harus memutar otak untuk “mempercantik diri” agar dilirik oleh calon mahasiswa baru. Lalu, bagaimana dengan ISTN? Apa yang seharusnya ISTN lakukan untuk bisa bersaing dengan perguruan-perguruan tinggi lainnya?

Setiap perguruan tinggi punya cirinya masing-masing, mulai dari label hingga isinya. Melalui tulisan ini, saya ingin memberikan sebuah gambaran tentang bagaimana sebuah kampus bisa hidup ditengah-tengah persaingan yang saat ini sangat kompetitif. Saya perlu ingatkan bahwa tulisan ini bukanlah tulisan ilmiah, namun hanya sebatas pengamatan empiris saya terhadap bidang yang saat ini tengah saya geluti.

Saat ini saya bekerja disebuah Lembaga Pendidikan kalangan perbankan, sebuah lembaga pendidikan yang bernaung dibawah Yayasan Bank Indonesia. Walaupun masih mempunyai ikatan yang kuat dengan induknya, namun dari segi penghidupan, lembaga pendidikan ini amat sangat mandiri dalam menghidupi seluruh operasionalnya. Dan disetiap akhir tahun, melalui laporan keuangan, lembaga pendidikan ini dapat menghasilkan surplus yang luar biasa.

Ada cerita dibalik itu semua, cerita kesuksesan yang dimulai sejak saat penggantian pucuk pimpinan ditahun 2006 yang lalu. Perlu diketahui, pada tahun tersebut lembaga pendidikan ini hanya mendapati surplus sebesar 300 an Juta Rupiah. Jika mengingat lembaga pendidikan ini adalah “sekolahnya” kalangan perbankan, maka jumlah surplus tersebut bisa dibilang sangat minim untuk sebuah lembaga pendidikan yang memiliki gengsi.

Penggantian pucuk pimpinan, baik itu di tingkat yayasan maupun lembaga pendidikannya, menjadikan moment tersebut sebagai awal dari kebangkitan dan semangat baru dalam memikat bankir-bankir untuk mau mengikuti pendidikan dan pelatihan di lembaga pendidikan ini. Rencana strategis dan Road Map menuju tahun dimana Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 mendatang, disusun sedemikian rupa agar lembaga pendidikan ini dapat mengimbangi gerak laju para pelaku bisnis perbankan.

Perombakan total dilakukan, mulai dari struktur organisasi yayasan dan lembaga pendidikan hingga struktur kepegawaian. Perombakan terhadap struktur organisasi dilakukan terhadap anak-anak perusahaan yang tidak menguntungkan yayasan, digabung menjadi satu dibawah naungan dan pengelolaan lembaga pendidikan. Struktur kepegawaian dianalisa, kompetensi karyawan terhadap mutu dan kualitas kerja jadi sorotan untuk dibenahi melalui perekrutan sumber daya manusia yang produktif dengan background pendidikan minimal S-1. Kesemuanya itu dalam kerangka pencapaian target visi dan misi lembaga untuk menjadi lembaga pengembangan perbankan dan jasa keuangan yang terpercaya dan terkemuka di ASEAN. Itu yang pertama..

Yang kedua, strategi menjalankan lembaga pendidikan dan manajemen bisnis agar dapat bersinergi serta menghasilkan income.

Tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini banyak perguruan tinggi yang harus memutar otak untuk bisa menyajikan mutu serta kualitas pendidikan yang baik dengan disokong oleh kinerja pelayanan yang searah. Memutar otak agar dapat menghasilkan surplus yang luar biasa untuk menunjang dan memenuhi tuntutan kebutuhan hidup para karyawannya serta menghasilkan lulusan yang berkompeten dalam persaingan dunia kerja.

Lalu, bagaimana caranya lembaga pendidikan ini memanajemen itu semua? Luas lahan yang dimiliki lembaga pendidikan ini tidak mencapai setengahnya dari luas total lahan yang ISTN miliki. Di lahan yang ada ini, berdiri berbagai macam fasilitas. Mulai dari ruang kantor, ruang kelas, ruang rapat, ruang serba guna, cafetaria, asrama, masjid, lapangan futsal hingga fitness center. Kesemuanya itu adalah asset berharga yg bisa dijadikan pundi-pundi uang.

Tak heran jika pendapatan terbesar dari lembaga pendidikan ini terdapat pada divisi pengelolaan kampus. Bayangkan, divisi pengelolaan kampus dalam setiap tahunnya ditargetkan menghasilkan lebih dari 50 persen dari total keseluruhan dibandingkan dengan target pendapatan divisi-divisi yang lain.

Apakah kemudian dengan keadaan itu semua lantas membuat lembaga pendidikan ini terlena dengan pendapatan yang luar biasa dari segi fasilitas dan meninggalkan visi dan misinya sebagai sebuah lembaga pendidikan? Fasilitas-fasilitas yang ada ini hanya sebagai kebutuhan pelengkap visi dan misi. Lembaga pendidikan ini tetap fokus pada upaya mengembangkan kompetensi para bankir. Sekitar 2 minggu yang lalu, lembaga pendidikan ini mengangkat 5 orang honorable faculty yang berasal dari mantan gubernur Bank Indonesia dan orang-orang yang memiliki reputasi dalam dunia perbankan sebagai “guru besar”.

Dalam jajaran posisi strategis dan pengajar lembaga pendidikan ini terdapat nama-nama yang mempunyai latar belakang dari dunia perbankan, seperti mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia, mantan Direktur Utama BNI, Komisaris bank BTN dan setumpuk nama-nama lain. Artinya, dengan menempatkan orang-orang tersebut kedalam posisi penting diharapkan para bankir semakin “terpancing” untuk datang lalu kemudian “ditangkap” oleh fasilitas-fasilitas yang memadai.

Sistem pengolaan keuangannya pun diatur sedemikian rupa. Seluruh pendapatan yang ada dibagi dua, yang satu untuk pembenahan fasilitas kampus dan satu lagi untuk peningkatan gaji para karyawannya. Untuk yayasan, cukup dengan mendapat sisa dari pembagian tersebut. Total pendapatan bersih lembaga pendidikan ini per Desember 2010 setelah dibagi-bagi dengan biaya operasional, berdasarkan laporan keuangan lembaga, telah mencapai angka lebih dari Rp. 5 Milyar. Fantastis bukan?

Yang ketiga, point ini tidak kalah pentingnya dengan point-point sebelumnya, etos kerja dan budaya pelayanan yang diterapkan dan wajib dipegang teguh serta ditaati oleh seluruh karyawannya. Mengingat lembaga pendidikan ini hidup dari kunjungan para bankir-bankir, maka prinsip pelayanan sudah berlaku sejak pintu masuk dimana penjaga keamanan pun diharuskan untuk melakukan 2-5-2 (Istilah untuk tersenyum yang berarti, tarik ujung bibir 2 cm ke kiri dan 2 cm ke kanan ditahan selama 5 detik).

Sebagai tambahan sebelum penutup, lembaga pendidikan ini pada tanggal 7 April yang lalu telah diresmikan sebagai Hutan Kota oleh Menteri Kehutanan Republik Indonesia. Bila dibandingkan dengan luas dan hijaunya Kampus ISTN tercinta, lembaga pendidikan ini sangat terbatas area yang bisa ditanami oleh pohon. Tapi lembaga pendidikan ini mampu melakukan hal tersebut demi meningkatkan image. Sekali lagi, image itu dibangun untuk “memancing” para peserta kursus yang rata-rata dari kalangan perbankan agar mau datang dan mengikuti pendidikan dan pelatihan di lembaga ini.

Begitulah kira-kira gambaran yang bisa saya share, kiranya tulisan ini bisa menjadi masukan untuk kita semua dalam membangkitkan kembali ISTN dari tidur panjangnya. Sekian dan terima kasih. Salam..

Tomix Pribadi
Mantan Pemimpin Redaksi
Lembaga Pers Mahasiswa ISTN Black Post 1999-2001
Blog: http://tomixpribadi.blogspot.com

NB: Artikel menarik lainnya seputar memajukan kampus, silahkan masukan kata kunci “Memenangkan Persaingan Antar Kampus di Indonesia” ke dalam mesin pencari Google.

Artikel ini pernah dipublish di http://www.facebook.com/groups/INI.ISTN/doc/211347268905303/

Demi kepentingan almamater maka tulisan ini kembali diangkat oleh redaksi

Posted in News | Leave a comment

Selamat Datang di Blog Lembaga Pers Mahasiswa ISTN Black Post!

Para Pembaca Yang Budiman..,

Apa kabar? Kami kembali lagi untuk menyapa Anda semua dimanapun berada…

Lama tak menelurkan terbitan membuat kami semua merasa “gatal” untuk bisa menyentil  sana-sini. Menyentil sana-sini yang kami maksud adalah ketidaktahuan, kesalahpahaman dan ketidakmengertian.

Itulah yang mendasari kami untuk bangkit, berbenah diri, merestrukturisasi bahkan sampai menembus cakrawala digital (dengan membuat blog ini) hanya untuk sekedar meluapkan uneg-uneg dan melampiaskan wacana/pengetahuan yang kami dapat kepada Anda semua, civitas akademika ISTN secara khusus maupun khalayak ramai secara umum.

Kedepan, kami berencana untuk menerbitkan tulisan/artikel yang lebih berwawasan sains dan teknologi sesuai dengan background almamater kita, ISTN. Tidak tanggung-tanggung, para penulis/kontributor yang akan membagi ilmunya adalah para profesional dibidangnya yang merupakan para alumni ISTN yang juga mantan pengurus Black Post. Keren bukan?

Nah.., seperti apa tulisan/wacana yang akan kami suguhkan kepada Anda semua? Pantau terus blog ini, Pembaca yang budiman..

Satu lagi, blog ini bukan hanya milik Black Post semata. Kita semua dapat berpartisipasi dengan mengirimkan opini berupa tulisan dan silahkan kirim ke alamat e-mail: lpmblackpost@gmail.com demi dan untuk pencerahan kita semua sesama civitas akademika ISTN.

Akhir kata, kami mengucapkan selamat datang dan selamat menikmati tulisan-tulisan yang ada di blog Lembaga Pers Mahasiswa ISTN Black Post! A Luta Continua!!

 

Redaksi Black Post

Posted in Dari Redaksi | 3 Comments