Menggagas Format Baru Pers Mahasiswa

Belakangan ini, pers mahasiswa seakan mengalami kegamangan bahkan dalam banyak hal telah mengalami kemunduran. Selain kehilangan daya kritisnya, juga kehilangan eksistensinya sebagai media kampus. Ironisnya, kondisi ini hampir dialami oleh seluruh pers mahasiswa di Indonesia.

Ini terjadi karena pers mahasiswa tidak lagi dijadikan alat perjuangan dalam mengakampanyekan isu-isu kerakyatan seperti masa Orde Baru. Apakah perubahan sistem politik dari otoriter ke demokratis ikut mempengaruhi kemunduran dan kegamangan pers mahasiswa? Masih butuh perdebatan yang sangat panjang.

Memang ada perbedaan cukup mencolok antara pers mahasiswa masa Orde Baru dengan pers mahasiswa masa kini (pasca reformasi). Selama Orde Baru, pers mahasiswa mampu menyajikan liputan-liputan yang kritis, taktis, tajam dan seringkali membuat telinga pemerintah dan penguasa merah.

Beberapa pers mahasiswa bahkan sempat ditakui pemerintah atau menjadi target operasi pemerintah (black list) akibat penyajian berita yang tergolong berani. Sebut saja misalnya, Bulansumur (terbitan mahasiswa UGM), Pijar (terbitan mahasiswa Filsafat), Black Post (terbitan mahasiswa ISTN), Suara Massa (terbitan organisasi mahasiswa SMID).

Pada tahun 1995 pers mahasiswa Pijar pernah mengangkat tentang bisnis militer yang membuat geger di tubuh ABRI (TNI) itu. Begitu juga majalah mahasiswa Black Pos yang mengangkat tema utama “Subuh Berdarah di ISTN” sebagai protes atas kesewenangan tentara. Suara Massa juga lebih kritis karena selalu mengungkap korupsi dan penyimpangan ditubuh birokrasi pemerintah.

Ketajaman dan kekritisan pers mahasiswa saat itu bukan pada pemilihan bahasa dan judul saja, tetapi juga pada penyajiaan data dan kemampuan dalam mengungkap kasus-kasus korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Praktis sejak zaman Orde Baru, pers mahasiswa menjadi acuan dan bacaan alternatif masyarakat.

Pasalnya media-media konvensional (harian dan mingguan) tidak berani mengungkap dan apalagi mempublikasikan kasus-kasus KKN yang terjadi di institusi pemerinta. Sebaliknya, media konvensional hanya menjadi kepanjangan tangan pemerintah. Singkatnya, pers mahasiswa saat itu sebagai pers perjuangan dan perlawanan atau yang sering disebut dengan istilah pers alternatif.

Ketika sebuah kediktatoran Soeharto mampu ditumbangkan lewat gerakan reformasi 1998, terjadi pembalikan secara total dan fundamental terhadap dunia pers di Indonesia. Pers yang sebelumnya sangat jinak tiba-tiba berubah menjadi garang dan galak. Bahasa pers yang dulunya “sopan santun” berubah sangat menyengat. Berita yang dulunya “haram” menjadi “halal” untuk diberitakan.

Tema-tema, penggusuran, penangkapan, KKN dan penderitaan kaum pinggiran tidak lagi menjadi wilyah pers mahasiswa, media-media lain pun juga berani mempublikasikan dengan kemampuan data yang lebih lengkap. Dengan sendirinya, masyarakat kini lebih melirik pers-pers lain dari pada pers mahasiswa.

Perubahan total dan fundamental yang terjadi pada pers-pers kovensional ternyata juga berimplikasi pada pers mahasiswa. Harus diakui pasca reformasi pers mahasiswa mengalami perubahan cukup tajam. Perubahan itu bukan pengarah pada kemajuan dan profesionalitas tetapi mengarah pada kemunduran dan kegamangan di internal aktivisi pers mahasiswa.

Mencari Format Baru
Melihat realitas di atas penting kiranya pers mahasiswa menggagas format baru agar tetap eksis dan mampu berperan dalam menyuarakan kepentingan publik. Ini penting agar pers mahasiswa tidak tercerabut dari akarnya sebagai pilar demokrasi. Sehingga pers mahasiswa tetap kritis dan mampu menjadi alat perjuangan seperti masa lalu.

Beberapa hal yang perlu segera diperhatikan dan dibenahi oleh pers mahasiswa adalah. Pertama, pilihan isu atau tema. Pers mahasiswa sudah seharusnya mencari atau mengangkat isu-isu alternatif atau isu-isu lokal yang tidak pernah diungkap oleh pers-pers konvensional. Misalnya, tentang KKN di kampus, gaya hidup mahasiswa, kapitalisasi pendidikan, penderitaan kaum pinggiran dan isu-isu populis lainnya.

Isu itu, tentunya akan lebih menarik dan bisa diterima oleh pembaca terutama dikalangan mahasiswa sendiri. Jika pers mahasiswa mengangkat isu-isu aktual, tentang sengketa blok Cepu, tanah longsor, polio, flu burung, dan formalin misalnya, berita itu menjadi basi dan tidak menarik lagi. Sebab, semua media konvensional sudah mempublikasikannya dengan data yang lebih lengkap.

Kedua, kedalaman bahasan. Kelemahan dari pers mahasiswa selama ini adalah kemampuan dalam melakukan investigasi secara mendalam dan serius. Isu-isu dan tema-tema yang di angkat oleh pers mahasiswa lebih mencerminkan kebutuhan rubrikasi. Sehingga pembahasan dan ulasannya pun tidak begitu mendalam, bahkan seringkali tidak didasari oleh fakta dan data yang kuat. Tetapi lebih didasari oleh asumsi-asumsi dan analisis penulis.

Kecenderungan mutakhir yang ada pada pers mahasiswa masih sebatas pergeseran kuantitas belum menyentuh ke pergeseran kualitas. Radikalisasi yang ada hanya memiliki artian mengenai cairnya keberanian dalam menggagas tema dan simbol, namun belum diimbangi dengan kedalaman bahasan dan ulasan yang tajam.

Seharusnya antara berita utama dengan kedalaman penggalian sumber berita merupakan dua hal yang paling penting bagi dunia pers. Percuma tema yang di angkat menarik tetapi model penyajiannya tidak didukung oleh data dan fakta yang kuat.

Ketiga, pers tidak pernah bebas nilai dengan kata lain pers selalu membawa, penyambung lidah dari orang-orang yang terlibat di dalamnya. Oleh sebab itu, pers mahasiswa harus memiliki ideologi yang jelas. Ideologi ini tentunya harus memihak kepada kelas bawah (rakyat kecil) yang tertindas bukan memihak pada kelas borjuis (kapitalis). Ideologi ini disamping untuk menyatukan cita-cita, juga sebagai basis analisis bagi tulisan-tulisan yang akan diangkat.

Keempat, memiliki jurnalis yang handal. Dalam hal ini, pers mahasiswa harus memiliki jurnalis yang handal dalam militansi, kemampuan dan kecerdasan menganalisis situasi yang ada dan mampu memberikan solusi yang tepat. Mereka mau terjun langsung ke lapangan, bertemu langsung dengan nara sumber, merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Sehingga mampu menyajikan berita tajam, kritis sesuai dengan fakta yang ada.

Kelima, strategi rekruitmen. Untuk memperoleh kader jurnalis yang handal harus didukung oleh rekruitmen yang teratur, profesional dan sitematis. Langkah selanjutnya, input hasil retruitmen harus mendapatkan pendidikan dan bacaan yang teratur. Ini penting untuk memperkuat basis ideologi.

Salah satu kelemahan terbesar di pers mahasiswa adalah kelemahan dalam melakukan rekruitmen ini sehingga ketika suatu waktu ditinggalkan oleh kader yang lebih mampu (senior), kader lain (junior) tidak mampu meneruskan karena tidak memiliki kader yang handal dari proses rekruitmen tadi.

Dengan cara ini, diharapkan pers mahasiswa tidak lagi mengalami kegamangan di sana-sini, apalagi terkesan kehilangan isu sentral. Sebab, kita—terutama masyarakat—masih mengharapkan pers mahasiswa tetap menjadi penyambung dan pejuang rakyat tertindas dengan kekritisan dan ketajaman dalam menyajikan beritanya.

Sehingga pers mahasiswa yang sifatnya berkala tidak lagi dilecehkan dengn istilah, “kala terbit kala tidak” atau dengan istilah lain yang cukup tragis yaitu, “pers mahasiswa dibuat oleh mahasiswa, diterbitkan oleh mahasiswa dan dibaca sendiri oleh mahasiswa”.

 

Ditulis oleh: Abdul Basyit (Direktur Utama LAPMI HMI Cabang Jogjakarta)
Dipublikasikan pada tanggal 26 Oktober 2011

*Isi tulisan sesuai seperti yg tertera pada halaman aslinya
Dikutip dari: http://lapmihmicabangmalang.wordpress.com/2011/10/26/menggagas-format-baru-pers-mahasiswa/

About lpmblackpost

Lembaga Pers Mahasiswa ISTN Black Post adalah sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa di Institut Sains dan Teknologi Nasional - Jakarta.
This entry was posted in News. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s